Tn.X dirawat diruang melati hari ke-3 dengan diagnosa medis CKS dan terpasang NGT sejak 3 hari yang lalu mendapat terapi Inj Cefotoksim 3x1 @1mg dll.Karena terpasang NGT sehingga obat oralnya harus dibuat puyer dahulu.Pasien mengatakan nyeri dengan skala nyeri pasien 8.Karena pasien masih terbaring ditempat tidur sehingga untuk BAK dan BAB dibantu oleh perawat.
A. Definisi
Komosio serebri (gegar otak) merupakan bentuk trauma kapitis ringan dimana terjadi pingsan (kurang dari 10 menit). Gejala yang lain mungkin termasuk noda-noda di depan mata dan linglung. Komosio serebri tidak meninggalkan gejala sisa atau tidak menyebabkan kerusakan struktur.
Kromosio serebri atau gegar otak adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala yang tidak disertai dengan kerusakan jaringan otak. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah, tampak pucat.
Cedera kepala sedang merupakan cedera kepala yang mengakibatka kehilangan kesadaran atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam serta dapat diserta dengan fraktur tengkorak dan kerusakan struktur dan jaringan otak denagn skala koma Glasgow antara 9-13.
B. Cara Pemberian Obat
Obat adalah sesuatu yang mengubah fungsi tubuh bila dipakaikan kepada organisme hidup. Cara pemberian obat bergantung pada keadaan umum pasien, kecepatan respon yang diinginkan,sifat obat, dan tempat kerja obat yang diinginkan.
Cara pemberian Obat meliputi :
1. Peroral
Cara pemberian peroral merupakan cara pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai ,karena ekonomis,paling nyaman dan aman.Obat dapat diabsobsikan melalui rongga mulut (sublingual atau bukal).Tetapi cara ini juga mengandungbeberapa kelemahan yaitu kurang pastinya jumlah obat yang terserap.Penyerapan obat juga dapat dipengaruhi kondisi penyakit tertentu , seperti diarrhea.
Obat yang dihancurkan getah lambung dan obat-obat yang menggenggu selaput lendir saluran pencernaan dipakaikan obat dengan cara ini. Obat-obat tertentu yang sangat mengganggu dapat diberi lapisan yang tidak akan hancur di perut. Aksi obat tertunda sampai lapisan hancur oleh sekresi usus.
Obat-obat tertentu yang dimakan mengubah warna gigi atau cenderung merusak email. Obat-obat ini biasanya mudah larut dalam air atau zat cair lainnya.. Pasien dapat meminumnya dengan selang lalu disusul dengan minum air, hal ini dilakukan untuk mengurangi kekuatan obat dalam merusak gigi. Asam Hidroclorida encer merupakan salah satu contoh obat yang merusak gigi dan harus dipakai dalam keadaan encer betuldan menggunakan selang minum.
2. Parenteral
Kata ini berasal dari bahasa Yunani. Para berarti di samping, enteron berarti usus jadi parenteral berarti di luar usus atau tidak melalui saluran cerna.
Pemberian obat-obatan pre parental berarti bahwa obat-obatan itu di berikan melalui kulit. Salah satu alat bantu disini adalah spuit injeksi.Pemberian injeksi tepat di bawah kulit, di dalam jaringan otot atau langsung ke dalam pembuluh darah, akan tergantung pada jenis obat yang di berikan.
Melalui cara pemberian ini, obat-obatan tersebut tidak melalaui saluran pencernaan, oleh karena itu dosis yang di butuhakan harus ditentukan dengan teliti dan tepat. Pada umumnya obat ini bekerja lebih cepat. Pemberian obat-obatan dengan cara ini menuntut derajat ketelitian yang tinggi dan cara kerja yang aseptik atau higenis.
3. Topikal
Cara ini dilakukan dengan mengoleskan obat pada permukaan kulit atau bagian tertentu saja/ lokal tubuh seperti krim, saler, obat tetes mata dan telinga dan dapat digunakan untuk melumasi, melindungi, atau menyampaikan obat ke daerah tertentu pada kulkit atau membrane mukosa.
4. Rektal
Obat dapat diberikan melalui rute rectal berupa enema, atau suposituria. Pemberian rectal mungkin dilakukan untuk memperoleh efk lokal. Obat ini diberika pada:
a) seperti pada konstipasi atau hemoroid;
b) untuk memberi obat yang mempunyai efek sistemik pada mual bila lambung tidak dapat menahan obat itu;
c) bila obat itu berbau tidak enak;
d) bila pasien tidak sadar
e) atau untuk menghindari iritasi saluran cerna
5. Inhalasi
Saluran nafas memiliki luas epitel untuk absorpsi yang sangat luas dan dengan demikian berguna untuk memberi obat secara lokal pada salurannya, missalnya salbutamol (Ventolin) atau sprei beklometason (Becotide, Aldecin) untuk asma, atau dalam keadaan darurat misalnya terapi oksigen.
6. Pervaginal
Obat yang dimasukan ke dalam vagina pada umumnya bekerja secara local. Ini berarti bahwa daerah bekerjanya terbatas pada daerah tertentu, dalam hal ini adalah lapisan lendir vagina. Bentuk dari obat yang di berikan adalah tablet yang dapat larut dengan perlahan, atau dapat juga dalam bentuk salep.
C. Kebutuhan Nutrisi dan Eliminasi
Kebutuhan nutrisi bagi tubuh merupakan suatu kebutuhan dasar manusia yang sangat penting. Dilihat dari kegunaannya nutrisi merupakan sumber energi untuk segala aktivitas dalam sistem tubuh.Sumber nutrisi dalam tubuh berasal dari dalam tubuh sendiri,seperti glikogen yang terdapat dalam otot dan hati ataupun protein dan lemak dalam jaringan dan sumber lain yang berasal dari luar tubuh seperti yang sehari-hari dimakan oleh manusia.Pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak akan sangat berguna dalam membantu proses tumbuh kembang.Prosedur pemenuhan kebutuhan nutrisi pada orang sakit yang tidak mampu secara mandiri dapat dilakukan dengan cara membantu memenuhinya melalui oral (mulut),enteral(pipa lambung) atau parenteral.
Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi peroral secara mandiri.
Pemberian nutrisi melalui pipa lambung merupakan tindakan yang dilakukan pada klien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi peroral atau adanya gangguan fungsi menelan.Tindakan pemberian nutrisi melalui pipa lambung dapat dilakukan dengan pemasangan pipa lambung lebih dahulu kemudian dapat dilakukan pemberian nutrisi.
Pemberian nutrisi parenteral merupakan pemberian nutrisi berupa cairan infus yang dimasukkan kedalam tubuh melalui darah vena baik sentral (untuk nutrisi parenteral total) atau vena perifer (untuk nutrisi parenteral parsial).Pemberian nutrisi melalui parenteral dilakukan pada pasien yang tidak dapat dipenuhi kebutuhan nutrisinya melalui oral atau enteral.
Metode pemberian nutrisi parenteral :
• Nutrisi parenteral parsial merupakan pemberian sebagian kebutuhan nutrisi melalui intravena.Sebagian kebutuhan nutrisi harian pasien masih dapat dipenuhi melalui enteral.Cairan yang biasanya digunakan dalam bentuk dekstrosa atau cairanasam amino.
• Nutrisi parenteral total merupakan pemberian nutrisi melalui jalur intravena ketika kebutuhan nutrisi sepenuhnya harus dipenuhi melalui cairan infus.
• Lokasi pemberian nutrisi secara parenteral melalui vena sentral dapat melalui vena antikubital pada vena basilika sefalika,vena subklavia,vena jugularis interna dan eksterna dan femoralis.Nutrisi parenteral melalui perifer dapat dilakukan pada sebagian vena di daerah tangan dan kaki.
D. Intervensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan keterbatasan gerakan otot
Kaji intensitas nyeri, skala nyeri, durasi, karakteristik, kualitas dan kuantitas nyeri, kaji TTV (tanda-tanda vital) , kaji kekuatan otot, latihan ROM.
2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik
Kaji aktifitas pasien, dorong pasien untuk melakukan aktifitas sesuai toleransi, berikan pujian atas apa yang telah dilakukan pasien.
E. SOP (Standar Operasional Prosedur)
1. Cara pemberian obat
a. Pemberian obat secara intravena (IV)
1. Membaca tasmiyah dan mengatur posisi pasien dan pilih vena dari arah distal
2. Memasang perlak dan alasnya
3. Memasang daerah yang akan di injeksi
4. Meletakkan torniquet 5 cm proksimal yang akan ditusuk
5. Memakai handscoon
6. Membersihkan kulit dengan kapas alkohol (melingkar dari arah dalam kearah luar) biarkan kering.
7. Mempertahankan vena pada posisi stabil
8. Memegang spuit dengan sudut 30º
9. Menusuk dengan kemiringan 30º dan lubang jarum menghadap keatas
10. Melakukan aspirasi dan pastikan darah masuk ke spuit
11. Membuka torniquet
12. Memasukkan obat secara perlahan
13. Mencabut spuit sambil menekan daerah tusukan dengan kapas
14. Menutup daerah tusukan dengan plester luka
15. Membuang spuit kedalam bengkok
b. Pemberian obat secara intra muscular (IM)
1. Membaca tasmiyah dan mengatur posisi pasien, sesuai dengan tempat penyuntikan
2. Memasang perlak dan alasnya
3. Membebaskan daerah yang akan di injeksi
4. Memakai handscoon
5. Menentukan tempat penyuntikan dengan benar
6. Membersihkan kulit dengan kapas alkohol (melingkar dari arah dalam keluar) biarkan kering
7. Menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk meregangkan kulit
8. Menusukkan spuit dengan sudut 90º, jarum masuk 2/3
9. Melakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk ke spuit
10. Memasukkan obat secara perlahan
11. Mencabut jarum dari tempat tusukan
12. Menekan daerah tusukan dengan kapas desinfektan
13. Membuang spuit kedalam bengkok
c. Pemberian obat secara intra cutan (IC)
1. Membaca tasmiyah dan mengatur posisi pasien
2. Memasang perlak dan alasnya
3. Membebaskan daerah yang akan di injeksi
4. Memakai handscoon
5. Membersihkan kulit dengan kapas alkohol (melingkar dari arah dalam keluar) biarkan kering
6. Menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk meregangkan kulit
7. Menusukkan spuit dengan kemiringan 15-20º, jarum masuk kurang lebih 0,5 cm
8. Memasukkan obat kedalam kulit perlahan, pastikan ada benjolan
9. Mencabut jarum dari tempat tusukan
10. Memberi tanda lingkaran sekitar tususkan
11. Membuang spuit kedalam bengkok
d. Pemberian obat secara supositorial
1. Membaca tasmiyah dan mengatur posisi miring kesalah satu sisi, kaki sebelah atas ditekuk (posisi sim)
2. Membentangkan perlak dibawah bokong pasien
3. Membuka bungkus obat
4. Memakai handscoon
5. Membuka bokong pasien hingga anus terlihat
6. Memasukkan obat perlahan-lahan, dorong hingga masuk
7. Meminta pasien untuk tidak menahan masuknya obat dan tidak mengejan (rileks) pastikan obat masuk
8. Merapikan pasien
2. Perawatan luka
1. Membaca tasmiyah dan memasang sampiran/menjaga privacy
2. Mengatur posisi pasien sehingga luka dapat terlihat dengan jelas
3. Membuka peralatan
4. Memakai handscoon
5. Membasahi plaster dengan alkohol/wash bensin dan buka dengan menggunakan pinset
6. Membuka balutan lapisan terluar
7. Membersihkan sekitar luka dan bekas plaster
8. Membuka balutan lapisan dalam
9. Menekan tepi luka (sepanjang luka) untuk mengeluarkan pus
10. Melakukan debridemant
11. Membersihkan luka dengan menggunakan NaCl
12. Melakukan kompres desinfektan dan tutup dengan kassa
13. Memasang plaster atau verband
14. Merapikan pasien
Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi
a. Pemasangan NGT
1. Membaca tasmiyah dan menjaga privacy pasien
2. Mengatur posisi pasien dalam keadaan posisi semi fowler
3. Memakai handscoon
4. Membersihkan lubang hidung pasien
5. Memasang pengalas di atas dada
6. Mengukur panjang NGT dan beri tanda (dari prosessus xipoideus ke hidung dan belok ke daun telinga)
7. Mengolesi ujung NGT dengan jelly sesuai ukuran panjang NGT yang akan dipasang
8. Perlahan ujung NGT melalaui hidung (bila pasien saar dianjurkan pasien untuk menelan ludah berulang-ulang)
9. Memastikan NGT masuk ke dalam lambung dengan cara mengaspirasi NGT dengan spuit atau memasukkan udara 10cc sambil diauskultasi di region lambung atau memasukkannya ke dalam gelas berisi air
10. Menutup ujung NGT dengan spuit/klem atau disesuaikan dengan tujuan dari pemasangan NGT
11. Melakukan fiksasi NGT di depan hidung dan pipi
12. Merapikan pasien
Pemberian makan lewat NGT
1. Membaca tasmiyah dan menjaga privacy
2. Mengatur posisi pasien dalam keadaan posisi semi fowler
3. Memakai handscoon
4. Membersihkan lubang hidung pasien
5. Memastikan letak NGT dengan cara aspirasi lambung
6. Memasang corong
7. Memasukkan air matang, membuka klem, meninggikan 30 cm, klem kembali sebelum habis
8. Membersihkan sisa makanan pada pasien
9. Merapikan pasien
Eliminasi
Pemasangan Kateter
1. Membaca tasmiyah dan memasang sampiran/menjaga privacy
2. Menyiapkan pasien dengan posisi dorsal recumbent dan melepaskan pakaian bawah
3. Melepaskan perlak, pengalas
4. Memakai handscoon
5. Membersihkan genetalia dengan air hangat
6. Mengganti handscoon yang steril, memasang duk steril
7. Memberi pelumas pada ujung kateter
8. Mengarahkan penis ke atas
9. Memasukkan kateter secara perlahan-lahan sedalam 15-23 cm atau sampai urine keluar
10. Menyambung kateter dengan urine bag
11. Mengisi balon dengan aquades sesuai dengan ukuran
12. Memfiksasi kateter ke arah atas perut
13. Melepaskan duk, pengalas dan handscoon
DAFTAR PUSTAKA
La Rocca, Joanne C. 1998. Terapi Intravena. Jakarta: EGC
Moore, Mary Courtney. 1998. Terapi Diet dan Nutrisi. Jakarta: Hipokrates
Price, Wilson. 1995. Patofisiologi: Kosep Klinis dan Proses-proses penyakit. Jakarta : EGC
SOP Keperawatan. 2006. Asosiansi Institusi Pendidikan DIII Keperawatan Jawa Tengah
Stevens, P. J. M, dkk. 1999. Ilmu Keperawatan. Jakarta: EGC
Tambayong, Jan. 2002. Farmakologi. Jakarta: Widya Medika
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC
Senin, 12 Oktober 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
